Wednesday, 15 August 2012

PEMILIHAN PEMIMPIN PADA MASA DEPAN



Sifat yang dituntun bagi seorang pemimpin
1)      Melakukan kajian ilmiah.
2)      Pengalaman praktikal.
3)      Ada pengikut

Melakukan kajian ilmiah.
Melalui kajian ilmiah, ianya dapat ,membuktikan keperibadian kepimpinan yang berjaya dan membuktikan seorang lelaki yang mempnuayai sifat bertanggungjawab. Ianya dapat dibuktikan melalui aspek berikut.
  1. Kemampuan otaknya.
  2. Kemahiran berkomunikasi.
  3. Matang
  4. Ada kemahuan yang tinggi.
  5. Kemahiran kemasyarakatan.
  6. Kemahiran mengurus

Pengalaman praktikal
Ianya merupakan hasil pengalaman bagi seorang pemimpin yang melaksanakan tugas kepimpinan  serta mengawal selia aktiviti organisasi.
Sifat yang perlu ada pada seseorang pemimpin:
  1. Berakhlak baik
  2. Hebat dalam pemerhatian dan menilai
  3. Ada kemampuan dalam pentadbiran dan organisasi
  4. Boleh menginsafkan
  5. Pelbagai kepentingan’
  6. Mempunyai kemampuan dalam membimbing
  7. Perasaan matang
  8. Mengutamakan perancangan
  9. Hormati diri dan orang lain
  10. Penuh kesabaran dan bersungguh2
  11. Tetap/teguh dalam keputusan
  12. Ada thiqah
  13. Penuh semangat
  14. Bersungguh2 dan bertenaga
  15. Mementingkan untuk melatih orang lain
  16. Elok perckapan
  17. Pemikiran yang logic
  18. Kewaspadaan serta perpaduan minda
  19. Mencari jalan menyelesaian terbaik
  20. Kaya pemikiran
  21. Bersegera dalam melakukan sesuatu
  22. Mempunyai perasaan kemanusiaan.

Pengetahuan yang perlu ada pada seorang pemimpin:
  1. Tujuan perbuatan , prinsip serta matlamat
  2. Struktur organisasi dan bimbingan
  3. Kewajipan dan tanggungjawab
  4. Dasar-dasar organisasi dan pelaksanaannya
  5. Prinsip-prinsip asas dalam ekonomi
  6. Prinsip-prinsip pengurusan saintifik dan kaedahnya.
  7. Produk-produk organisasi dan lapangan kerjayanya
  8. Perancangan dan jadual masa dan peringkat
  9. Keperluan menginfak harta dan mengawalnya
  10. Seni dan ilmu pemikiran yang kreatif
  11. Prinsip dan kaedah hubungan kemanusiaan
  12. Prinsip dan kaedah serta cara pengambilan dan pemilihan.
  13. Komunikasi

Kemahiran
Seorang pemimpin perlu menguasai kemahiran dalam bidang berikut;
  1. pemikiran kreatif
  2. perancangan, pengorganisasian, pelaksanaan dan susulan
  3. pembelajaran, bimbingan dan latihan lapangan
  4. membahagikan tugas kepada anggota organisasi
  5. menyediakan kemudahan serta kelengkapan.
  6. Memberi maklumat kepada orang lain secara tersusun
  7. Mampu untuk memantau dan mengadili
  8. Tolong menolong antara satu dengan yg lain
  9. Menguruskan perbelanjaan
  10. Menyelesaikan masalah pekerja
  11. Berdepan dengan kecemasan
  12. Menjaga kebersihan dan tersusun
  13. Ikhlas dalam amalan dan tidak membuang masa
  14. Menunjukkan contoh yg baik
Ada pengikut
Iaitu unsur-unsur kepimpinan yang diperhatikan oleh pekerja terhadap pemimpin melalui kedudukan yang berbeza
  1. Hormati perasaan orang lain
  2. Kebebasan dan integrity
  3. Amanah dan istiqamah
  4. Kesempurnaan
  5. Kenal orang lain
  6. disiplin diri
  7. berani
  8. kejelasan dan keterbukaan
  9. maruah dan martabat
  10. suka menolong
  11. mengambil berat orang lain

Perbezaan orang yang berjaya dengan orang yang gagal

Orang yang berjaya
Orang yang gagal
Menepati janji
Hanya tahu berjanji sahaja
mengenalpasti masalah dengan tepat/jelas
Lari dari masalah dan tidak mahu berdepan dgnnya
Menghormati orang lain dr pegawai atasan dan mendengar pandangan mereka
Mengelakkan dari orang yang berjaya  dan suka mencari keburukan orang lain
Sentiasa mengkaji dan meneliti serta suka mencari benda baru
Membosankan
Mencari cara/jalan yang paling baik dlm sesuatu perkara
Hanya mengikut orang lain
Pendengar yang baik
Bercakap tanpa berhenti
Sedar/mengaku kesalahan yang dilakukan
Menafikan kesalahan
Memohon maaf atas kesalahan yang dilakukan dan memperbaiki kesalahannya.
Meminta maaf kemudian melakukan kesalahan yang sama
Rajin dalam melakukan sesuatu dan memanfaatkan waktu
Malas dan suka  membazirkan masa

sifat pemimpin yang berjaya
  1. yakin pada diri dan orang lain
  2. realism dan berpengetahuan
  3. menghulurkan bantuan pada orang lain
  4. ada kemampuan
  5. susun waktu ikut kepentingan
  6. mengeluarkan ketetapan terhadap sesuatu perkara
  7. mempunyai akhlak terpuji
  8. mengutamakan amalan ikut kepentingan
  9. hiaskan diri dengan keberanian
  10. ikhlas dan bersungguh
  11. mementingkan tujuan yang ingin dicapai
  12. semangat yang tetap dan berterusan
  13. memberi semangat pada orang lain
  14. punyai fikiran terbuka
  15. boleh kkawal emosi dengan tenang
  16. pandangan yg boleh ditterima pakai
  17. pemimpin yang berakal dan punya perasaan


BERCERMINLAH PADA CERMIN SEJATI



Ayyuhal ikhwah,
Tentu hampir kita semua pernah bercermin. Ketika hendak berangkat kerja, bersiap-siap pergi ke kampus, atau sekedar menyisir rambut dan merapihkan jilbab, kita tidak lupa untuk menyempatkan diri bercermin. Bahkan tidak sedikit dari kita yang dengan setia membawa cermin kecil dalam setiap aktivitas yang kita jalankan.

Tapi sadarkah kita bahwa walaupun cermin memantulkan bayangan yang sesuai dengan apa yang ada, namun tetap saja ia bersifat subyektif. Karena apa ? Karena kesimpulan akhir yang terungkap dari bayangan di cermin tentu saja dikeluarkan oleh orang yang bercermin. Ketampanan, kecantikan, dan bayangan seindah apapun yang terpantul dari cermin tentang diri kita tetap saja merupakan sesuatu yang tidak obyektif. Lantas, siapakah cermin sejati itu ? Jawabnya adalah orang lain.

Ikhwah fillah yang berbahagia,
Inilah sebuah kenyataan yang harus kita terima bahwa orang lainlah tempat terbaik untuk menilai diri kita. Penilaian yang diberikan orang lain mengenai diri kita akan lebih obyektif karena bagaimanapun orang lain relatif terbebas dari nilai-nilai ego yang begitu kuat mencengkram diri kita. Namun keobyektifan yang dihasilkan dari hasil bercermin kepada orang lain bukanlah sesuatu yang dapat kita peroleh secara gratis. Obyektifitas yang dihasilkan ternyata harus dibayar mahal dengan kerelaan kita untuk menerima penilaian bukan hanya yang bervalensi (bernilai) positif namun juga yang bervalensi negatif. Dikatakan mahal, karena memang sangat jarang manusia yang mampu berlapang dada mengakui kekurangan (valensi negatif) dalam dirinya. Manusia akan merasa terhina ketika kelemahannya diberitahukan kepada dirinya. Dan akan merasa bahagia ketika hal yang sebaliknya dilakukan.


Ikhwah fillah rahimakumullah,
Secara jujur harus kita katakan bahwa banyak dari kita yang belum mampu berlapang dada untuk menerima berita kelemahan mengenai diri kita yang biasanya diberikan dalam bentuk kritikan. Kita cenderung hanya bisa menerima bayangan yang memantulkan sosok diri kita yang sempurna tiada cacat sedikitpun. Padahal bisa jadi inilah rahasia mengapa Allah menyuruh kita untuk saling bertaushiyah, yaitu menyampaikan kritikan antara sesama kita dan bersamaan dengan itu berlapang dada untuk menerimanya. Dan memang seperti itulah seharusnya manusia yang baik. Bahkan kepiawaian seseorang dalam mengelola refleksi diri berupa kritik, akan mengantarkan orang tersebut menjadi pemimpin yang semakin hari semakin memiliki kualitas diri. Hal ini tanpa disadari terjadi karena pada hakikatnya kelapangan dada untuk menerima kritik adalah paralel dengan usaha melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas diri.


Oleh sebab itu ikhwah fillah yang berbahagia,
Budaya bercermin pada cermin sejati inilah yang seharusnya kita kembangkan dalam diri kita. Karena selain sebagai sarana untuk melatih diri agar obyektif terhadap diri sendiri, juga sarana pengingat bahwa kita ---hamba Allah--- adalah makhluk yang lemah dan jauh dari kesempurnaan. Wallahu a'lam bishowab (BW)


Bahaya Berdebat

Dari Abu Hurairah RA, bahwasannya Nabi SAW bersabda: "Hentikanlah (menanyai)ku tentang apa yang aku abaikan untuk kalian. Sesungguhnya ummat yang sebelum kalian telah binasa karena mereka banyak bertanya dan mendebat para nabi mereka. Jika aku melarang kalian tentang sesuatu maka jauhilah dan jika aku memerintahkan kalian terhadap sesuatu maka lakukanlah semampu kalian." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Suatu hari Rasulullah tengah berkhutbah di hadapan manusia. "Wahai manusia sekalian, Allah telah mewajibkan atas kalian haji," teriak beliau. Tiba-tiba ada seorang pendengar bertanya, "Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?" Tapi beliau tidak menjawab. Orang itu pun mengulang pertanyaannya hingga tiga kali. Kemudian beliau berkata, "Seandainya aku katakan ya, tentu itu wajib hukumnya, tapi semampumu." Selanjutnya beliau menyabdakan hadits di atas.
Dalam peristiwa yang menjadi sabab wurud (sebab munculnya) hadits tersebut Nabi secara terang-terangan melarang debat. Kata su'al dan khilaf dalam bahasa Arab lazim juga disebut dengan miraa' dan jadal.
Hujjatul Islam Imam al-Ghazali memberikan ta'rif (definisi) miraa' sebagai upaya menyangkal perkataan seseorang dengan mengungkapkan kerancuan dalam perkataan tersebut, baik dari sisi lafazh maupun maknanya. Sedangkan jadal adalah Keinginan untuk mengalahkan dan menjatuhkan seseorang dengan menyebutkan kekurangan yang ada pada perkataannya, bahkan menisbatkannya dengan aib dan kebodohan. Miraa' biasanya terjadi dalam lapangan ilmiah. Sedangkan jadal terjadi dalam lapangan yang lebih umum yakni kehidupan sehari-hari seperti ngobrol dan bergurau.
Dalam hadits itu, Rasulullah mengajarkan kepada kaum Muslimin untuk efisien dalam berbicara dengan hanya menanyakan hal yang penting-penting saja. Banyak orang memburu jawaban dengan pertanyaan yang tidak berguna karena semata-mata ingin mencari keasyikan berdebat.
Selain tidak bermakna, tindakan ini jelas akan menyia-nyiakan waktu dan berpeluang untuk menimbulkan penyakit hati ghil (tidak suka) yang bisa berujung pada permusuhan.
Perilaku demikian adalah ciri khas Bani Israil (Yahudi) seperti diabadikan Allah dalam surat al-Baqarah ayat 67-74. Ketika itu mereka diperintahkan untuk menyembelih seekor sapi. Tetapi mereka sengaja mempermainkan Nabi dan mempersulit diri mereka sendiri dengan pertanyaan yang dibuat-buat.
Lain halnya dengan pertanyaan (diskusi) yang dimaksudkan sebagai proses belajar-mengajar. Hal itu justeru menjadi keharusan asal adabnya tetap dijaga. Allah berfirman, "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (an-Nahl: 43)
Atau juga dalam rangka da'wah yang dalam al-Qur'an disebut dengan mujadalah. Diskusi yang didasari oleh semangat kasih sayang dan kebenaran ini justeru diperintahkan oleh Allah. "Wajaadilhum billatii hiya ahsan." Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (an-Nahl:125)
Contoh debat yang tidak membawa faedah misalnya adalah pembahasan yang `liar' tentang hal-hal yang gaib misalnya Allah, hari kiamat, ruh, masalah hidup ummat manusia dan hal-hal lain yang hanya dapat diketahui lewat dalil naqli saja. Pertanyaan-pertanyaan itu bila difahami secara mendalam hanya akan semakin membingungkan dan menambah keraguan sehingga bisa berakhir pada kesesatan. Telah diriwayatkan bahwa Nabi Shalallaahu `alaihi wa sallam berkata, "Ummat manusia itu akan selalu bertanya-tanya sehingga nanti dikatakan ini adalah yang telah menciptakan semua makhluk, lalu siapa yang menciptakan Allah?"

Solusi
Kebiasaan berdebat adalah penyakit. Untuk mengobatinya harus ditempuh sejumlah solusi. Pertama, memenuhi kalbu dengan ma'rifat, tauhid dan ketakwaan kepada Allah. Dengan cara ini seseorang akan selalu bersikap dan berucap dengan niat dan metode ilahiyyah. Apa yang dilakukannya dalam diskusi tidak diorientasikan untuk mencari kemenangan, tapi kebenaran. Sehingga ia akan meninggalkan ego pribadinya serta menjauhi sikap kibr dan merendahkan orang lain.
Kedua, Senantiasa memelihara adab Islami dalam berbicara, mengkritik, bertanya dan menyampaikan pendapat. Antara lain, dengan cara yang bijaksana, hormat, lembut dan lain-lain. Dengan begitu, lawan bicara akan merasa dihargai sehingga terjadi komunikasi yang indah dan bermanfaat, jauh dari egoisme dan semangat saling mengalahkan.
Ketiga, menghayati akibat buruk yang timbul dari kebiasaan berdebat. Antara lain tidak mendorong orang untuk beramal, tapi hanya memperbanyak bicara. Padahal kata Umar bin Khatab, banyak bicara maka banyak bias, banyak bias berarti banyak dosa dan banyak dosa berarti masuk neraka.
Keempat, belajar bersikap jantan dan obyektif dalam menerima kebenaran dari orang lain. Kelima, mengobati hati dari penyakit ujub, ghurur dan takabbur.
Keenam, berusaha bergaul dengan komunitas (jama'ah) yang jauh dari kultur debat dan cuma banyak bicara.
Dengan menghindari diri dari debat setiap muslim akan menjadi mulia, baik di sisi manusia dan Allah. Terlebih, Allah juga akan menjadikannya sebagai ahli surga seperti sabda beliau yang diriwayatkan Abu Dawud, "Aku adalah pemimpin rumah di bawah naungan syurga bagi orang yang meninggalkan miraa'."• Deka Kurniawan

Tuesday, 14 August 2012

4 CONTOH AHLI SYURGA


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Ayat ini menyuruh kita supaya jadi ahli syukur nikmat, jangan kufur nikmat.Orang yang paling beruntung dalam hidup ini bukan orang yang hanya dilimpahi harta banyak, pangkat dan gelar yang tinggi sahaja, melainkan mesti ada dua ciri: 1. Orang yang diberi nikmat kemudian ia bersyukur. 2. Orang yang ketika diberi ujian Allah kemudian ia bersabar, karena kesyukuran dan kesabaran itulah yang membuat dirinya semakin dekat dengan Allah swt. 

Oleh karena itulah jika kita berdoa meminta kepada Allah harta, ilmu dan pangkat, ini belum tentu akan membawa kebaikan bagi kita Bila tidak disertai dengan sikap bersyukur dan bersabar, mungkin ia akan menjadi fitnah. Tidak sedikit orang terkenal, tapi berakhir hidupnya dengan bunuh diri. Tidak sedikit orang yang berkedudukan tetapi terhina justru karena kedudukannya. Ada orang yang menderita dengan keindahan rupanya. Orang yang berharta banyak tetapi diliputi oleh rasa takut dan kekhawatir akan hartanya, sehingga bertambah kehinaannya karena ketamakannya. 


Ahli syukur, adalah seseorang yang hatinya tidak merasa memiliki dan dimiliki, kecuali menyadari semuanya milik Allah. Tidak ada nikmat sekecil apa pun kecuali dari Allah. Tidak ada istilah kebetulan, melainkan semua nikmat diatur oleh Allah swt. dengan pasti. 
Sekali lagi Orang yang senantiasa bersyukur (ahli syukur) cirinya :

1. Sekecil apapun nikmat akan disyukurinya. Akibatnya akan merasakan kebahagiaannnya sampai ke hal-hal yang kecil. Berbeda dengan yang tidak tahu bersyukur, dia letih dan susah memikirkan nikmat yang belum ada. Akibatnya jangankan nikmat yang belum ada, yang sudah ada sahaja tak ternikmati. Ingatlat Ahli syukur tidak pernah kehilangan kesempatan untuk menikmati bukan nikmatnya, tetapi sikap syukurnya itu yang membuat ia nikmat. 

2. Ahli syukur , Selalu memuji Allah dalam setiap kesempatan. Setiap kali ia mendapat pujian tidak merasa itu miliknya. Semua yang membuatkan kita dipuji adalah karunia Allah. Oleh karena itulah tidak layak kita menjadi orang yang menikmati pujian, sehingga kita membohongi diri sendiri. Sebaik-baik orang yang bersyukur, yang selalu berbahagia adalah yang ketika dipuji mengembalikan pujian itu kepada Allah swt. Dengan Ucapan “Al-Hamdulillah Rabbil A’lamin” Segala puji hanyalah bagi Allah, hanyalah milik Allah, tuhan sekalian alam.

3. Ahli Syukur, Selalu berterima kasih kepada orang yang menjadi jalan nikmat bagi dirinya. Semua nikmat ada jalur-jalurnya. Mungkin nikmat kita melalui seseorang. Orang yang tahu bersyukur itu senang sekali untuk merenungi dan mengingati kebaikan orang lain dan membalasnya. Dan orang-orang yang bersyukur inilah yang akan menikmati kehidupan yang penuh dengan nikmat. 

4. Ahli Sykur, akan memanfaatkan nikmat yang ada untuk mendekatkan diri kepada Allah. Lisan mengucapkan Al-Handulilah kepada Allah dan terima kasih kepada sesama manusia. dahi dipakai banyak bersujud. Mata dipakai melihat kebenaran ilmu dan Al Quran. Lidah dipakai banyak menyebut nama Allah, berdoa, menasehati kebaikan dan kebenaran, dan harta kekayaan dinafkahkan di jalan Allah. 

Ingtalah bahawa Ilmu, kekayaan dan kesempatan adalah nikmat.

Allah menjanjikan setiap nikmat yang disyukuri akan mengundang nikmat yang lainnya. Tidak usah bingung terhadap nikmat yang belum ada, karena nikmat yang belum ada bukan urusan kita, itu hak mutlak Allah. Urusan kita mensyukuri nikmat yang ada. 
Sidang jumaah yang sama-sama mencari keridhaan ALlah
Nikmatnya ahli syukur ia akan bebas dari fikiran yang sia-sia, dari menyusahkan dirinya, bahkan akan dimudahkan oleh Allah untuk mendapatkan nikmat-nikmat yang belum terpikirkan oleh kita.

Kita yakinkan dalam diri kita : kita banyak angan-angan dan keinginan yang kita harapkan, tetapi tidak semua yang diharapkan akan kita dapatkan, kewajiban kita adalah mensyukuri apa yang kita perolehi, maka jadilah manusia Ahli Syukur.

IKHLAS JAMBATAN KEJAYAAN IBADAH PUASA



TIDAK lama lagi, umat Islam akan menghadapi Ramadan, menandakan bermulanya ibadat puasa sebagai salah satu Rukun Islam. Ramadan, bulan penuh keberkatan yang mengandungi banyak hikmah kepada Muslimin.
Tidak hairanlah, Rasulullah menyifatkan Ramadan sebagai bulan untuk umatnya. Ini terkandung dalam satu hadis, bermaksud, “Rejab bulan Allah, Syaaban bulanku dan Ramadan itu bulan umatku.”
Sehubungan itu, persediaan mental dan fizikal perlu dilakukan dari sekarang. Bagi mereka yang berpuasa sunat sepanjang Syaaban, amalan berpuasa Ramadan tidak terlalu membebankan.
Anggaplah kehadiran Ramadan sebagai bulan keseronokan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dan menambah amal ibadah selain menahan lapar dan dahaga.
Membersihkan hati dan peribadi penting untuk mencapai tahap kecemerlangan berpuasa sebagaimana yang dihayati kalangan salihin dan aulia Allah.
Tetapi bagaimana hendak membersihkan diri sebagaimana yang dituntut Allah dan Rasulullah. Ini kerana rohani yang bersih melahirkan keikhlasan. Hati yang ikhlas kunci segala amalan dan ibadat Muslimin itu diterima Allah.
Akhlak adalah kecantikan peribadi seseorang. Akhlak juga cermin kerohanian insan yang dikasihi Penciptanya. Manusia dicipta untuk menjalani kehidupan yang berakhlak, sebagaimana firman Allah dalam surah al-Imran (85) bermaksud, “Siapa yang memilih cara kehidupan selain agama Islam, Allah tidak sekali-kali akan menerima apa saja daripadanya dan juga di akhirat dia dimasukkan ke dalam golongan orang yang rugi,” kata pendakwah Pertubuhan Kebajikan Islam Malaysia, Sayyid Musa Kazim al-Bukhari.
Manusia itu sifatnya tidak sempurna, kerana kesempurnaan itu hanya milik Allah. Orang yang berakhlak mulia dan terpuji ialah insan yang sentiasa menginsafi dirinya hanyalah hamba kepada Penciptanya. Hidupnya untuk kembali ke alam akhirat, manakala setiap perbuatan walaupun satu huruf tetap akan dihisab di hadapan Allah di akhirat kelak. Orang inilah yang diberi peluang oleh Allah untuk membersihkan hatinya.
Firman Allah dalam surah an-Naziyat (40-41) bermaksud, “Dan adapun orang yang takut atas kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya/keinginannya, maka sesungguhnya syurga itu tempat tinggalnya.”
 “Mereka yang membersihkan diri ialah orang yang sentiasa berusaha meningkatkan iman dan takwanya. Baik dalam kehidupan rahsianya mahupun ketika di khalayak ramai,” jelas Sayyid.
Sesungguhnya golongan ini seperti yang disebut dalam firman Allah dalam surah al-Kaf (16-18) bermaksud: “Sesungguhnya kami menciptakan manusia dan kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Kami lebih hampir kepadanya daripada urat lehernya. Ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang seorang lagi di sebelah kiri, tiada satu ucapan pun yang dilafazkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang bernama Raqib dan Atid, hadir bersama.”
Kata Sayyid, seorang mukmin tidak mungkin melakukan perkara mungkar jikalau mengetahui Allah dan malaikat sentiasa memerhatikan gerak-gerinya.
Firman Allah dalam surah al-Infitar (10-12) bermaksud: “Dan sesungguhnya bagi kamu ada malaikat yang mengawasi pekerjaan kamu, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Di antara malaikat itu ialah yang bernama Kiraman dan Katibin.”
 “Seseorang yang berbuat dosa sedangkan ia mengetahui perbuatan itu salah adalah orang yang ingkar. Dia tidak beriman kepada Allah pada ketika itu. Sekiranya dia menemui ajalnya pada masa itu, maka matinya sebagai hamba yang derhaka kepada Allah,” kata Sayyid.
Firman Allah lagi dalam surah al-Israk (13-14) bermaksud: “Dan setiap manusia yang mukallaf (Islam, baligh dan berakal), kami lekatkan tanda nasib buruk pada tengkuk masing-masing sebagai kalung dan kami perlihatkan kepadanya pada hari kiamat kitab amalannya yang dia mendapatinya di dalam keadaan terbuka, menampakkan buruk baiknya dan diikatkan kepadanya: “Bacalah kitabmu, memadailah kamu sendiri membuat kiraan pada hari ini terhadap amalanmu!
“Pada setiap masa dan ketika malaikat sentiasa menyaksikan amalan yang dilakukan umat manusia, sama ada baik ataupun jahatnya.”
Untuk membersihkan diri, perlu mengetahui empat perkara iaitu, mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, mengenal dunianya dan mengenal akhiratnya.
Allah berfirman dalam surah al-Mulk (2) bermaksud: “... yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa antara kamu yang lebih baik amalannya dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”
Orang yang beriman wajib percaya dan yakin Allah itu wujud, mendengar, melihat dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu.
Firman Allah dalam surah al-Imran (29) bermaksud: “Katakanlah, jika sekalipun kamu sembunyikan atau kamu terangkan apa yang dalam hatimu itu, nescaya Allah mengetahuinya.”
Orang merasakan dirinya menjadi perhatian Allah setiap masa akan hidup sebagai hamba yang ikhlas dan mentaati Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah yang bermaksud, “Barang siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan baik dan ikhlas, Allah akan menjadi mata yang dia melihat dengannya, Allah akan menjadi telinga yang dia mendengar dengannya, Allah akan tangannya yang dengannya dia berbuat semua perkara.”

Orang yang mencapai tahap ikhlas seperti ini adalah seorang yang salih dan mendapat darjat yang amat tinggi di sisi-Nya serta jadilah dia seorang yang sahibul karamah.
Orang yang mahu membersihkan diri, harus lebih dulu membuang segala sifat tercela yang ada pada diri dan menggantikannya dengan sifat terpuji.
Firman Allah dalam surah at-Jatsia (23) bermaksud, “Apakah engkau tahu, orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan dia disesatkan Allah dalam keadaan mengetahui.”
Menurut Rasulullah, mereka yang tergolong dalam kecelakaan itu ada empat golongan iaitu hatinya keras sehingga dia enggan menerima kebenaran, matanya buta sehingga dia tidak nampak yang benar, sifat tamaknya menjadikan dia hamba kepada kebendaan dunia dan keempat ialah keinginan terlalu banyak tanpa berusaha atau usaha yang tidak sah.
Membersihkan diri juga amalan orang yang ikhlas. Firman Allah dalam surah as-Syams (8-9) bermaksud: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya itu, Dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya.”
Sesungguhnya orang yang berjaya sampai pada tahap tertinggi itu dengan rahmat Allah sepertimana yang disebutkan dalam surah al-Fajar (27-30) iaitu: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang dan direlakan. Dan masuklah dalam golongan hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku.”
Jiwa yang tenang memudahkan seorang itu mengerjakan ibadat dengan khusyuk. Seluruh jiwa dan kehidupannya hanyalah mentaati Allah dan Rasul-Nya. Meliputi semua perkara, pergerakan hati dan anggota badan, fikiran, pergaulan, janji, peribadi, hingga kematiannya juga adalah dikira ibadat.
Ini disebut di dalam firman Allah dalam surah al-Imran (110) bermaksud, “Kamu adalah sebaik baik umat yang dilahirkan di kalangan umat manusia, kamu memerintahkan mereka melakukan kebaikan serta melarang mereka daripada melakukan kejahatan, sedang kamu pula beriman kepada Allah.”
Ikhlas adalah jambatan kejayaan dalam ibadat. Ikhlas juga adalah lambang cinta sejati seorang hamba yang bermunajat dengan Khaliknya.
Itulah yang dimaksudkan oleh ayat (5) surah al-Fatihah iaitu, “Hanya Engkau sajalah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.”
Indahnya seorang yang sangat rapat dan cinta kepada Allah ialah orang itu akan menjadi seorang yang amat dicintai Allah dan mendapat gelaran sahabat handai Allah.
Mereka yang mencapai martabat ketinggian ini tiada bandingannya di sisi Allah sebagaimana disebutkan di dalam surah Yunus (62-64), “Ingatlah, sesungguhnya wali/sahabat handai Allah itu mereka tidak merasa takut dan tidak berdukacita, mereka beriman dan menjaga diri daripada kejahatan. Mereka memperoleh berita gembira dalam kehidupan yang dekat ini dan di akhirat; tidak ada perubahan bagi perkataan Tuhan; itulah keberuntungan yang besar.”
Sebaliknya, mereka yang menjalani kehidupan ini dengan mengikut keinginan hawa nafsunya, dia tidak dapat merasai kemanisan iman malah hanya akan membinasakan dirinya sendiri, sehinggalah dia bertaubat dan kembali semula pada jalan Allah.

Namun kata Sayyid, tidak akan berlaku sesuatu perkara itu jika tidak dengan kurnia dan rahmat Allah juga kerana sesungguhnya Allah mempunyai kurnia yang amat besar.

Ini disebutkan oleh Allah dalam surah An-Nur (21) bermaksud, “Dan kalaulah tidak kerana kemurahan Allah dan kasih sayang-Nya kepada kamu, tidaklah seorang pun di antara kamu yang bersih buat selama-lamanya, tetapi Allah menyucikan orang yang dikehendaki-Nya; dan Allah itu Maha Mendengar dan Maha Tahu.”

Sabda Rasulullah lagi bermaksud; “Sesungguhnya Allah cinta kepada hamba-Nya yang takwa yang bersih daripada segala penyakit hati, lagi yang menyembunyikan dirinya demi menjauhkan diri daripada pengaruh-pengaruh yang tidak baik.”

Barang siapa yang beramal dengan ilmunya, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya, itulah cara membersihkan diri.

Thursday, 24 November 2011

  ( وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُون   (٩                                                                                                                                                                                                                                                                                                        Maksudnya : Maksudnya : "dan sesungguhnya kamu akan ditanya kelak tentang apa yang telah kamu kerjakan."